Tenggat

Anjing. Anjing. Anji-. Umpatanmu tertahan. Kelima jarimu masih meraba-raba tuts keyboard tanpa berkeinginan mengetik apa pun. Di pukul dua dini hari, di hadapan poster film Dunkrik, pikiranmu melayang seperti pesawat yang kehilangan daratan. Tirai notifikasi menampakkan satu pesan yang belum dibaca, tapi kau benar-benar tidak ingin membacanya. Sebab pesan itu berisi dua kata, seratus persen menggunakan huruf kapital, dan dua kata itulah yang menghancurkan hari-harimu ke depan.

Continue reading

Keinginan Berbicang


Kamu terus saja menatap layar, bergembira dengan kode binari, tuts-tuts yang tidak nyata, mengawasi setiap sisinya, takut melewatkan sesuatu, yang tidak penting, dan membelakangiku

obrolan tidah penting terucap, atau sengaja dipaksakan untuk diobrolkan. Mencoba memecah sunyi, tentu saja kesunyian tidak dapat diperdaya

Namun, tuts keyboard terus saja memperdayaimu, ah, rupanya digital mampu memecah kesunyian, aku kalah, oleh kesunyian yang lebih dalam

Continue reading

Perihal Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini dan Hal-hal Lainnya

Menahan diri untuk menutup buku ini dan meletakkannya kembali ke rak buku menjadi perasaan yang terus saja berkecamuk di benak. Bagaimana tidak? Kau dipaksa membaca tulisan yang mendeklarasikan diri sebagai cerita. Kalau bukan diiming-imingi buku gratis, tentu aku sudah menutup buku ini saat halaman awal. Upaya terus membaca buku yang tidak disuka dan mengulasnya menjadi tantangan sendiri. Rasanya sepahit seperti dijodohin, dan kau diminta mengisi talkshow soal pernikahan. Namun, apa bole bikin?

Continue reading

Eskalator

Anak itu tampak kebingungan di depan eskalator yang berjalan turun itu. Di ujung eskalator, sang ibu menatap anaknya dengan raut khawatir. Anak itu tak kunjung menapak anak tangga, ia kebingungan dengan anak tangga yang terus berjalan. Sepertinya, baginya itu kali pertama menuruni tangga eskalator. Kakinya mencoba perlahan menapak, tetapi keraguan membuatnya menarik kakinya kembali. Sang ibu semakin cemas.

Continue reading

Solidaritas — Italo Calvino

Aku berhenti untuk mengawasi mereka.

Mereka sedang bekerja pada malam hari, di jalan kecil, mengotak-atik rolling door sebuah toko.

Rolling door itu tampak berat, mereka menggunakan linggis untuk mencungkil, namun tetap saja tidak bergeser.

Aku berjalan mengitari, tidak ke mana pun, semauku. Aku meraih linggis untuk memberi mereka bantuan. Mereka memberikan ruang padaku.

Continue reading

Pipa – Etgar Keret

Ketika aku kelas 7 SMP, sekolah mendatangkan psikiater dan meminta kami untuk mengikuti rangkaian tes. Dia menunjukkanku dua puluh flashcard yang berbeda, satu persatu, dan menanyakan apakah ada yang salah dengan gambar di kartu tersebut. Kartu-kartu itu terlihat baik-baik saja menurutku, namun ia mendesakku dan kembali menujukkan kartu pertama—satu satunya kartu yang terdapat anak kecil. “Ada yang salah dengan gambar ini?” ia bertanya dengan muka lesu. Aku berkata gambarnya terlihat baik-baik saja. Ia sungguh-sungguh marah, dan berkata, “dapatkah kau lihat ada seorang anak tanpa daun telinga?” Mendengar itu aku kembali menatap kartu tersebut,  aku coba melihat seorang anak tanpa daun telinga. Continue reading