Espresso: Menarik, Meski Tidak Sepahit Itu

sumber: instagram.com/viadravia

Aku menyenangi kopi, tetapi tidak begitu memedulikan segala hal tentang kopi. Kupikir cukup untuk mendatangi kedai kopi, kemudian memesan salah satu menu di sana, lalu kembali ke meja dan menunggu kopi tersebut diantarkan. Perhatianku pun hanya tertuju pada kopi yang dipesan dan tentu apa yang ingin kukerjakan di kedai tersebut.  Namun setelah membaca Espresso, sepertinya aku perlu membagi perhatianku pada segala hal di balik bar, perihal mesin-mesinya, perihal biji-biji kopi di sana, dan tentu saja pada baristanya. Dalam lima puluh bab di dalamnya, Espresso cukup berhasil memantik rasa penasaranku pada kopi dan dunia di sekitarnya.

Continue reading

di hari kelulusan

seperti pagi yang sudahsudah di hari kelulusan, grha saba permana UGM selalu penuh penuhi para wisudawan/wati yang tengah bersukaria, berfoto dengan temanteman mereka, dengan orangtua dan kerabat saudara, dengan segala yang mereka cintai. tida peduli siang itu tengah panaspanasnya, tida peduli lapar dan dahaga tengah menerjang di bulan puasa. wajah suka cita begitu bersinar melepas status mehasiswa, melepas segala kepenatan tugas akhir, dan beberapa di antara mereka tentu bersiap melepaskan diri dari kota jogja, beberapa lainnya berencana memabukkan diri, entah di tengah jalan, atau di kedai bir.

sedangkan saya, mengenakan hoodie biru, berusaha menerobos keramaian dan sukacita itu. mencari beberapa teman, y hanya sekadar mengucapkan selamat, berfoto dan kembali menjalani rutinistas.

Upaya Mengingat 2018

Ah, aku sadar sudah terlalu terlambat buat menulis ini. Tapi ya sudahlah, aku hanya ingin menuliskannya dan membuang jauhjauh dari kepala.

Di hari keempat di tahun 2019 ini, aku berada di depan laptopku, aku baru saja mengirimkan surel yang berisi naskah keduaku di sebuah penerbit. Aku kadang masih tidak mempercayai kegiatanku selama empat bulan terakhir.

Continue reading

Sate Klatak dan AADC 2?

Saya merupakan pribadi yang mudah terpengaruh pada sesuatu yang saya baca dan tonton. Misal, novel Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Z membuat saya ingin pergi ke Kota Tua di Jakarta Pusat pada dini hari. Atau saja novel Istanbul karya Orhan Pamuk membuat saya ingin bertualang ke sudut-sudut ibukota Turki tersebut. Hal yang sama terjadi saat saya menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2. Untuk beberapa generasi, film ini merupakan sebuah reuni. Film yang kembali dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nikolas Saputra, akan membawa kembali penonton Ada Apa Dengan Cinta pada tahun 2002. Segala kenangan yang tak jauh dari kisah romansa dan persahabatan yang terjadi pada masa itu, bisa jadi kenangan dengan siapa yang diajak menonton film itu, atau kepada siapa puisi-puisi ditulis saat film itu booming. Namun, bagi saya yang mungkin saat itu masih ingusan, saya tidak mempunyai kenangan apa pun terhadap film itu. Film AADC 2 bagi saya adalah pantikan untuk menjelajah kota di mana saya dibesarkan.

Continue reading