Siasat Klasik Merampok Buku di Masa Depan

Udah, tinggal aja. Kamu belum hidup di masa manusia terpikir untuk mencuri buku, ok.

Begitu pesan yang kukirim pada Ina. Ina ragu dan meminta pendapatku perihal meninggalkan novel War and Peace — yang juga masih bau toko — di meja perpustakaan kampus. Ada jeda beberapa saat selepas tanda centang di Whatsapp membiru. Displai ruang obrolan kami yang terus saja kupandangi, hingga ia membalas;

Baiklah, akan kutinggal. Kalo ada yang sampe ngambil, kamu ganti rugi War and Peace bonus Anna Karenina yang bukan terbitan Wordsworth.

Continue reading

Mencari Arini

Setelah memberikan piring antik, pemutar vinyl, dan mobil chevrolet pada tiga pegawainya, tanpa aling berkata-kata lagi, Richard langsung memacu motor BMW-nya tidak tentu arah. Dalam perjalanan pertamanya keluar kota Jakarta, Richard tidak peduli lagi dirinya akan tersesat, dalam kepalanya hanya Arini, Arini, dan Arini.

Ia memacu motornya, speedometer menunjukkan 100km/jam, ia bahkan tidak peduli lagi jika harus mengalami kecelakaan, setidaknya itu lebih baik daripada kehilangan Arini. Richard sempat terpikir lebih baik ia memberikan motornya kepada Pak Samsul, tidak peduli seberapa mahal motor ini, sebab Arinilah yang memberikannya tujuan untuk membeli motor ini, sebab di bangku belakang seharusnya diisi oleh Arini.

Continue reading

Bagaimana Mahasiswa Ber-IPK 4 Berjualan Buku Tere Liye

Ia melangkah keluar GSP dengan langkah tegap dan yakin, ia tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Beberapa menit yang lalu, rektor memanggil namanya di hadapan ribuan pasang mata mahasiswa dan para orang tua, ia dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi di periode wisuda itu. Tidak tanggung-tanggung, rektor menyebutnya mendapat IPK 4, wajah Ibu Rektor tampak kecut melihat wujud mahasiswa yang memperoleh prestasi tersebut, ia adalah mahasiswa yang sama yang pernah Ibu Rektor minta kepada dekan fakultas untuk menyekors akibat tuduhan perbuatan tidak menyenangkan di rumah Ibu Rektor. Akan tetapi, masalah itu sudah berlalu, Ibu Rektor sepertinya masih tidak terima pengacau di rumahnya memperoleh IPK sempurna.

Continue reading

Tenggat

Anjing. Anjing. Anji-. Umpatanmu tertahan. Kelima jarimu masih meraba-raba tuts keyboard tanpa berkeinginan mengetik apa pun. Di pukul dua dini hari, di hadapan poster film Dunkrik, pikiranmu melayang seperti pesawat yang kehilangan daratan. Tirai notifikasi menampakkan satu pesan yang belum dibaca, tapi kau benar-benar tidak ingin membacanya. Sebab pesan itu berisi dua kata, seratus persen menggunakan huruf kapital, dan dua kata itulah yang menghancurkan hari-harimu ke depan.

Continue reading

Eskalator

Anak itu tampak kebingungan di depan eskalator yang berjalan turun itu. Di ujung eskalator, sang ibu menatap anaknya dengan raut khawatir. Anak itu tak kunjung menapak anak tangga, ia kebingungan dengan anak tangga yang terus berjalan. Sepertinya, baginya itu kali pertama menuruni tangga eskalator. Kakinya mencoba perlahan menapak, tetapi keraguan membuatnya menarik kakinya kembali. Sang ibu semakin cemas.

Continue reading

Duka Cita

blue-valley

Bulu abu-abu itu biasanya menyesakkan hidungku, ekormu kadang suka menyibak wajahku, dan aku kadang masih menemukan bekas cakaran itu di kulitku. Namun, saat ini, Cita, kamu di mana?

Sebenarnya kejadian itu bukan sekali dua kali terjadi, sudah cukup sering kucing berusia tiga tahun itu kabur dari rumah dan menghilang begitu saja. kamu kabur pun juga karena kecerobohan kami, kadang aku kerap lupa tidak menutup jendela ketika tidur, rupanya hal itu dimanfaatkan dengan baik olehmu untuk kabur, atau kadang kesalahan orangtuaku kerap meninggalkan kamu main di depan rumah tanpa ada yang mengawasi. Continue reading