Tiba-tiba Pintu Diketuk

Oleh: Etgar Keret

“Lo kasih gue cerita deh,” si pria berewok duduk di ruang tamuku. Situasi ini bisa kubilang, sama sekali tidak menyenangkan. Aku bisa dibilang senang menulis cerita, tetapi sama sekali bukan pencerita, bahkan untuk pesanan sekali pun. Terakhir kali aku bercerita sekitar setahun lalu, itu saja untuk anakku. Aku menceritakan kisah “Peri dan Musang”—yang aku sendiri pun tidak begitu ingat kisah itu—dan dalam dua menit dia sudah tertidur. Namun situasi saat ini benar-benar berbeda. Sebab anakku tidak punya berewok, atau pistol yang menodongku, sederhananya si pria berewok ini mau merampokku.

Continue reading

Espresso: Menarik, Meski Tidak Sepahit Itu

sumber: instagram.com/viadravia

Aku menyenangi kopi, tetapi tidak begitu memedulikan segala hal tentang kopi. Kupikir cukup untuk mendatangi kedai kopi, kemudian memesan salah satu menu di sana, lalu kembali ke meja dan menunggu kopi tersebut diantarkan. Perhatianku pun hanya tertuju pada kopi yang dipesan dan tentu apa yang ingin kukerjakan di kedai tersebut.  Namun setelah membaca Espresso, sepertinya aku perlu membagi perhatianku pada segala hal di balik bar, perihal mesin-mesinya, perihal biji-biji kopi di sana, dan tentu saja pada baristanya. Dalam lima puluh bab di dalamnya, Espresso cukup berhasil memantik rasa penasaranku pada kopi dan dunia di sekitarnya.

Continue reading

di hari kelulusan

seperti pagi yang sudahsudah di hari kelulusan, grha saba permana UGM selalu penuh penuhi para wisudawan/wati yang tengah bersukaria, berfoto dengan temanteman mereka, dengan orangtua dan kerabat saudara, dengan segala yang mereka cintai. tida peduli siang itu tengah panaspanasnya, tida peduli lapar dan dahaga tengah menerjang di bulan puasa. wajah suka cita begitu bersinar melepas status mehasiswa, melepas segala kepenatan tugas akhir, dan beberapa di antara mereka tentu bersiap melepaskan diri dari kota jogja, beberapa lainnya berencana memabukkan diri, entah di tengah jalan, atau di kedai bir.

sedangkan saya, mengenakan hoodie biru, berusaha menerobos keramaian dan sukacita itu. mencari beberapa teman, y hanya sekadar mengucapkan selamat, berfoto dan kembali menjalani rutinistas.

60 Detik Me-refill Galon

Menuju Barat, Mencari Air Galon

            Air galon tersisa setengah, Selma meminta anak-anak lelaki membeli re-fill air galon cadangan. Berhubung sampai hari keempat, aku belum ke mana pun, akhirnya aku mengajukan diri. Jojo, Angga dan Andre terlihat tidak antusias, ya mereka pun juga sepertinya cukup lelah setelah belanja dan beberapa lainnya observasi masalah. Untung saja Cana bersedia menemani.

            “Ngga, kemarin re-fill air di mana?” Tanyaku.

Continue reading

Upaya Mengingat 2018

Ah, aku sadar sudah terlalu terlambat buat menulis ini. Tapi ya sudahlah, aku hanya ingin menuliskannya dan membuang jauhjauh dari kepala.

Di hari keempat di tahun 2019 ini, aku berada di depan laptopku, aku baru saja mengirimkan surel yang berisi naskah keduaku di sebuah penerbit. Aku kadang masih tidak mempercayai kegiatanku selama empat bulan terakhir.

Continue reading

Siasat Klasik Merampok Buku di Masa Depan

Udah, tinggal aja. Kamu belum hidup di masa manusia terpikir untuk mencuri buku, ok.

Begitu pesan yang kukirim pada Ina. Ina ragu dan meminta pendapatku perihal meninggalkan novel War and Peace — yang juga masih bau toko — di meja perpustakaan kampus. Ada jeda beberapa saat selepas tanda centang di Whatsapp membiru. Displai ruang obrolan kami yang terus saja kupandangi, hingga ia membalas;

Baiklah, akan kutinggal. Kalo ada yang sampe ngambil, kamu ganti rugi War and Peace bonus Anna Karenina yang bukan terbitan Wordsworth.

Continue reading

Mencari Arini

Setelah memberikan piring antik, pemutar vinyl, dan mobil chevrolet pada tiga pegawainya, tanpa aling berkata-kata lagi, Richard langsung memacu motor BMW-nya tidak tentu arah. Dalam perjalanan pertamanya keluar kota Jakarta, Richard tidak peduli lagi dirinya akan tersesat, dalam kepalanya hanya Arini, Arini, dan Arini.

Ia memacu motornya, speedometer menunjukkan 100km/jam, ia bahkan tidak peduli lagi jika harus mengalami kecelakaan, setidaknya itu lebih baik daripada kehilangan Arini. Richard sempat terpikir lebih baik ia memberikan motornya kepada Pak Samsul, tidak peduli seberapa mahal motor ini, sebab Arinilah yang memberikannya tujuan untuk membeli motor ini, sebab di bangku belakang seharusnya diisi oleh Arini.

Continue reading

Bagaimana Mahasiswa Ber-IPK 4 Berjualan Buku Tere Liye

Ia melangkah keluar GSP dengan langkah tegap dan yakin, ia tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Beberapa menit yang lalu, rektor memanggil namanya di hadapan ribuan pasang mata mahasiswa dan para orang tua, ia dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi di periode wisuda itu. Tidak tanggung-tanggung, rektor menyebutnya mendapat IPK 4, wajah Ibu Rektor tampak kecut melihat wujud mahasiswa yang memperoleh prestasi tersebut, ia adalah mahasiswa yang sama yang pernah Ibu Rektor minta kepada dekan fakultas untuk menyekors akibat tuduhan perbuatan tidak menyenangkan di rumah Ibu Rektor. Akan tetapi, masalah itu sudah berlalu, Ibu Rektor sepertinya masih tidak terima pengacau di rumahnya memperoleh IPK sempurna.

Continue reading