Espresso: Menarik, Meski Tidak Sepahit Itu

sumber: instagram.com/viadravia

Aku menyenangi kopi, tetapi tidak begitu memedulikan segala hal tentang kopi. Kupikir cukup untuk mendatangi kedai kopi, kemudian memesan salah satu menu di sana, lalu kembali ke meja dan menunggu kopi tersebut diantarkan. Perhatianku pun hanya tertuju pada kopi yang dipesan dan tentu apa yang ingin kukerjakan di kedai tersebut.  Namun setelah membaca Espresso, sepertinya aku perlu membagi perhatianku pada segala hal di balik bar, perihal mesin-mesinya, perihal biji-biji kopi di sana, dan tentu saja pada baristanya. Dalam lima puluh bab di dalamnya, Espresso cukup berhasil memantik rasa penasaranku pada kopi dan dunia di sekitarnya.

Espresso sesederhana bercerita tentang Haliya Lubna—alias Lulu, yang mulanya benar-benar tidak punya ketertarikan pada kopi, hingga kopi mengubah hidup Lulu 180 derajat. Kalau bukan karena hukuman dari Popoy—sebutan untuk Papanya, mungkin saja Lulu menjalani harinya sebagai mahasiswa biasa dengan ingar-bingar kehidupan Jakarta. Namun hukuman Popoy membuatnya terjebak di kedai kopi mungil di salah satu sudut kota Jogja.  Pengisahan beberapa puluh bab berikutnya berputar pada bagiamana Lulu belajar tentang dunia kopi dari nol hingga terpilih menjadi juara di salah satu kompetisi kopi, di titik inilah dilema baru muncul, ia mendapat tawaran untuk belajar lebih jauh di kedai Olfac di Jakarta.

Dilema yang dialami Lulu justru menarik buatku. Iming-iming kedai Olfac sebagai tempat para juara barista belajar dan bekerja, tempat di mana piranti dan mesin kopi terbaik berada. Tawaran tersebut tentu akan menyilaukan siapa pun yang bercokol di dunia kopi. Tidak terkecuali Lulu. Selain Lulu, Bisma—barista sekaligus rekan kerja Lulu—juga mengalami dilema tersebut, tentu bukan tanpa alasan Bisma merasa keberatan tawaran yang datang pada Lulu, sebab Salma—mantannya, pun juga terbuai dengan betapa menjanjikannya belajar lebih dalam di Jakarta, dan menyebabkan putusnya hubungan keduanya.

Seperti kebanyakan novel yang menyertakan Jakarta sebagai kota penjual mimpi, Espresso pun menghadirkannya dan tokoh utama—Lulu, pun terbuai di dalamnya. Meski masih di permukaan, Espresso menampilkan secara kontras perbedaan hidup di Jogja dan Jakarta, dan tergambarkan hanya dalam kedai kopinya, dan orang-orang di dalamnya.

Meskipun begitu, konflik antartokoh dalam Espresso terasa masih mengambang. Gaya penceritaan yang didominasi telling, alih-alih showing, membuat cerita melangkah begitu cepat dan terkesan terburu-buru. Dalam narasinya, Bara terkesan terlalu banyak menceritakan segala sesuatunya tanpa mengerem pembaca untuk selintas masuk ke dalam cerita, untuk sekadar merasakan segala rasa yang tengah dibangun dalam cerita. Singkatnya, Espresso tersaji agak hambar, untuk secangkir kopi yang seharusnya sangat pahit.

Secara keseluruhan Espresso memang menarik, ia tidak ubahnya seperti menoton film dokumenter ringan tentang kopi dengan balutan fiksi di dalamnya. Dengan mengangkat kopi sebagai sajian utama, tentu Espresso akan membuat tertarik pembacanya untuk sekadar melihat segala sesuatu yang terjadi di balik bar kedai kopi.

rating: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.