Puisi yang Memandumu Menulis Puisi (Unedited Vers)

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawamu pada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan.

Kau mungkin saja bosan membaca pujan-pujian yang ditujukan pada penyair, karena hanya pujiannya hanya mengulang-ulang kepiawaian Joko Pinurbo dalam mengolah dan mempermainkan bahasa Indonesia. Ada baiknya kau mengamati sampul buku ini, yang didominasi warna hitam, ilustrasi wajah dengan mata terpejam, dan judul buku dan nama penyairnya. Judul buku ini mungkin akan mengingatkanmu pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku ini mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, kau pun jika memiliki keahlian tertentu bisa menuliskannya. Begitu juga pembacanya, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis seperti apa yang mereka butuhkan, tanpa perlu memedulikan pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Mircosoft Word (2013, Elexmedia Komputindo), selama kau membutuhkan panduan Microsoft Word, kau akan senantiasa membelinya. Mungkin kau menyadari antara Buku Latihan Tidur dan Buku Latihan Microsoft Word mempunya kesamaan pola, kau mungkin berasumsi, “apa iya Joko Pinurbo sedang berparodi dengan buku panduan?” Linda Hutcheon (1985:22) pernah berkata bahwa parodi adalah relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan teks (baru) terhadap teks lama. Kau pun menatap lekat-lekat judul kedua buku tersebut, menimbang-nimbang, buku mana yang sekiramu memengaruhi buku lainnya? Untuk mengindentifikasi yang mana teks baru, yang mana teks lama kaukira tidak perlu kan? Jawabannya tentu saja Buku Latihan Tidur menggunakan dan menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi yang kau baca dari tulisan Linda Hutcheon (1985:6) berkata adalah bentuk imitasi yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang mengungkap perbedaaan, alih-alih persamaan. Lalu kau menerka-nerka, apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word. Kau pikir terlalu mudah jika jawabannya adalah objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu itu tidaklah salah, kemudian kau menyadari bahwa Buku Latihan Microsoft Word akan memandumu pada kegiatan produktif, yang tentu saja bisa berprofit. Sedangkan Buku Latihan Tidur? Akan memandumu untuk tidur? Ada bolham lampu di atas kepalamu, kau seakan mendapat pencerahan bahwa yang dibedakan oleh buku puisi Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi—adalah tidur adalah kegiatan kontraproduktif. Terkadang orangtuamu kerap mengomelimu gegara kau terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali pikirmu jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku karena tidur merupakan kegiatan kontraproduktif yang kemudian disejajarkan dengan aktivitas produktif lainnya. Apakah parodi ini selesai di bagian judul saja? Kau kembali mengamati judul-judul puisi di daftar isi, sesekali membaca beberapa yang kauanggap menarik. Kau menemukan puisi berjudul  “Langkah-langkah Menulis Puisi”, kau coba menyakinkan dirimu bahwa kau tidak sedang membaca buku panduan menulis kreatif. Memang tidak. Lalu perlahan kau membacanya bait demi bait. Kau mengira dirimu mendapatkan langkah-langkah konkret dalam menulis puisi. Nyatanya tidak begitu. Kau pernah membaca buku Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana, kau menemukan secara runut dan sistematis langkah-langkah menulis puisi dari proses mencari, menuangkan dan mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa dengan ragam contoh pengaplikasian. Namun langkah sistematis itu diparodikan oleh penyair pada puisi di atas. Konsep-konsep yang dijabarkan panjang lebar oleh Hastra Indriyana diparodikan oleh Joko Pinurbo dengan satu langkah, yakni duduk. Kau melihat dari langkah pertama hingga keenam, semuanya dilakukan dengan cara duduk yang kemudian diikuti keterangan tambahan seperti ‘dengan tenang’, ‘yang kelak akan jadi batu nisanmu’ dan ‘sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya.”’ Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap. Kemudian kau coba menerawang lebih jauh krtik-kririk yang dilontarkan penyair melalui parodi di puisinya. Kau pernah sekali waktu mencoba menulis puisi setalah membaca buku panduan menulis kreatif, tetapi kau gagal menuliskannya. Kau merasa puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi? mencoba mengkritik buku panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan kreatif itu sendiri. Perihal mencari ide, menentukan tema, pemilihan diksi dan sederet langkah lainnya, justru dalam puisi Joko Pinurbo hal itu bukanlah hal yang penting. Kau hanya menemukan dua kata kerja dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah hal-hal yang membawamu melihat ke dalam dirimu lebih jauh ke dalam saat ingin menulis puisi. Mantra ‘abrakadabra’ sebagai langkah terakhir seolah-olah setelah duduk dan membaca yang diikuti perenungan ke dalam diri, adalah keajaiban. Kau agak tidak memahami bagian keajaiban seperti apa yang dimakud penyair, kau mengambil tongkat, dan menjentikkannya seraya berucap, “Abrakadabra.”

Daftar Pustaka:

Hutcheon, Linda. 1985 A Theory of Parody. Urbana and Chicago: Unversity of Illinois Press.

Untuk edited vers bisa dibaca di Galeri Buku Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.