a, camus~

‘fan, pulang yuk.’ katamu setelah melihat jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. kamu membereskan pekerjaanmu, menata beberapa lembar kertas menjadi rapi, memasukkannya di map plastik yang di salah satu sudutnya telah sobek. wajahmu penuh peluh, meski kipas angin berputar di kecepatan maksimalnya dan udara malam tentu, menggambar sebuah paradoks. aku mengiyakan. turut mematikan laptop, sesekali mengematimu. kamu menghadap cermin, berkata, ‘fan, jerawatku makin banyak nih.’ kujawab, ‘makanya mandi.’ ‘lah kamu tau kan aku pulangnya jam segini terus.’ ‘habis ini mandi deh, ***.’ kamu beranjak keluar. aku menarik tali ekor di kipas angin, dan mematikan lampu. ah, aku lupa mencari gembok. kunyalakan kembali, mencari gembok berwarna perak itu di sesisi ruangan. ‘cari apa, fan?’ kamu berbalik, mendapati aku baru saja mematikan lampu ruangan. ‘ini.’ aku mengangkat genggamanku, ‘kamu duluan ke depan aja.’ kamu pun berlalu. kupandangi lekatlekat kamu yang tengah memakai sepatu. entah berapa malam yang kuhabiskan untuk menemanimu. aku senang saja melakukannya, meski kamu saat itu tengah meredam luka. dan aku hanya menunggu luka itu pulih kembali. aku mengenakan sepatuku asalasalan, dan sesegera menyusulmu di halaman. motormu sudah dinyalakan. aku pun menyalakannya. ‘hatihati di jalan, ***, kataku. ‘kamu juga,’ kamu memacu motornya. pohonpohon lebat di pinggir mengiringi perjalanan kami menuju gerbang kampus. malam begitu larut, sesekali beberapa motor berlalu. jarak motor kami hanya terpaut dua meter. dari kacaspion aku memandangimu, kamu dengan mata terfokus di jalanan tida menyadari itu, ujung kain kerudungmu melambailambai, tetapi tidak ke arahku, yang mengikutimu dari belakang. motormu berhenti di perempatan, menunggu hijau menyala. aku mengerem motor di sebelahmu. ‘kok ngga belok kiri? tanyaku. ‘enak lurus, fan. jadi cuma ngelewatin lampu merah dua kali.’ ‘kalo belok kiri?’ ‘nglewatin tiga sih, fan.’ belum sempat kutanggapi. lampu hijau menyala. aku kembali mengekor di belakangmu. angin malam membuatku ingin memelukmu malam itu. lewat spion, aku menatapmu penuh harap, sedang kamu masih menikmati lukamu. dalam dua jam aku pernah menungguimu menangis. menangis di salah satu sudut kampus. kamu tidak ingin berkata apaapa, hanya tersenyum tegar di saat ingatan itu datang padamu. dan berkata, ‘yuk, pulang fan.’ sesampainya di sebuah perempatan, kamu berbelok ke arah selatan, dari sudut mataku, aku berharap perjalananmu baikbaik saja, aku tetap lurus menuju barat.

–2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.