60 Detik Me-refill Galon

Menuju Barat, Mencari Air Galon

            Air galon tersisa setengah, Selma meminta anak-anak lelaki membeli re-fill air galon cadangan. Berhubung sampai hari keempat, aku belum ke mana pun, akhirnya aku mengajukan diri. Jojo, Angga dan Andre terlihat tidak antusias, ya mereka pun juga sepertinya cukup lelah setelah belanja dan beberapa lainnya observasi masalah. Untung saja Cana bersedia menemani.

            “Ngga, kemarin re-fill air di mana?” Tanyaku.

            “Di ujung, dusun Sabah.” Angga masih saja fokus depan layar handphone-nya. Aku memutuskan untuk menyimpan informasi singkat itu. Aku belum paham benar soal jalanan di desa ini. Kupikir dengan tidak tahu banyak, akan lebih banyak mengasah jiwa petualang kami. Akhirnya,  aku mengambil motor, Cana membonceng di belakang sambil memegang galon air. Kupaculah motor mengarah ke dusun Sabah.

            “Can, tadi Angga ngga jelas nih ngasih infonya,” keluhku.

            “Kita coba samperin saja satu per satu warung yang ada di sini, gimana?”

            Aku mengiyakan. “Mau coba di warung yang kemarin nongkrong?”

            “Coba aja.”

             Kantor desa Tumiang, tempat kami tinggal berjarak cukup jauh dari rumah penduduk. Namun, menurut Ibu Yayuk, penjaga sekolah sekaligus tetangga terdekat kami, kantor desa Tumiang justru berada di tengah-tengah dua dusun yang dinaungi Dessa Tumiang, yaitu Dusun Pasrah dan Dusun Sasak. Kata beliau, empat kilometer ke arah sana (arah di kiri dari kantor desa) ke dusun Sasak, sedangkan empat kilometer ke arah sana (arah kanan dari kantor desa) ke dusun Pasrah. Hanya ada dua rumah di sebelah kantor desa, setelahnya, kami melewati sawah yang cukup luas. Tidak seperti di Jawa yang relatif rapi dalam bercocok tanam, di sawah ini justru kami melihat ada padi, jagung, dan pohon sawit, ketiganya bisa dalam petak sawah yang sama. Bahkan ada beberapa ruas batang pohon jagung di pinggir jalan.

            Ada warung kecil setelah gereja di kiri jalan. Cana ingin coba bertanya. Aku tidak melihat tanda-tanda galon dipajang ataupun tulisn “re-fill air galon”, selayaknya di Jawa. Namun apa salahnya dicoba juga kan?

            “Permisi, Bu. Ada buat re-fill galon?”

            “Tak ade, coba ke sana.” Jari telunjuk si Ibu menunjuk ke arah barat, tidak jelas arah yang dimaksud Ibu. Kupikir tentunya bukan jarak yang dekat dari sini.

            “Baik, terima kasih, Bu.” Cana menarik diri, aku menyalakan motor.

            “Di kanan jalan, nante (baca: nanti),” tambah ibunya.

            Kami pun undur diri. Menggenggam informasi ‘di ujung’, ‘dusun Sabah,’ dan ‘di kanan jalan’. Motor vario putih kembali menelusuri jalanan Desa Tumiang. Tidak lama kami berjalanan buta tujuan, Cana menunjuk rumah yang berjarak sekitar 50 meter.

            “Fan, coba yang itu,” Cana menunjuk warung terakhir di ujung jalan, yang juga berada di kanan jalan.

            Aku memarkirkan motor, wanita yang berumur sekitar pertengahan 30 tahun menangkap kehadiran kami, perlahan menghampiri kami.

            “Cari ape, Nak?”

            “Ada re-fill buat galon, Bu?” Tanya Cana.

            Kami lagi-lagi mendapat jawaban yang sama. Kata ‘di ujung’ dan ‘di Sabah’ kembali membayangi tujuan kami. Desa ini cukus luas, kurasa. Pada hari kedua saat masih di kecamatan, Pak Dodi mengajak beberapa dari kami untuk makan bakso sekaligus mempertemukan kami dengan Pak Ardilala, selaku Kepala Desa Tumiang. Di tengah perjamuan bakso, saya iseng menanyakan pada Pak Ardilala jumlah populasi desa Tumiang.

            “Ada sekitar 2.000 penduduk,” jawab beliau singkat.

            “Untuk yang di Tumiang, Pak?” Ulangku untuk meyakinkan.

            “Iya, sekitar 2.000,” jawab beliau yakin, lalu kembali menyantap baksonya.

            Wah, banyak juga ya untuk desa kecil di salah satu pelosok Kalimantan ini, begitu pikirku saat itu. Namun begitu hari ini, baru kusadar jumlah dua ribu penduduk tersebut terpencar begitu jauh. Aku dan Cana kembali berada di atas motor tanpa tahu di mana warung yang dituju.

            Pemandangan kali ini berbeda dengan sebelumnya, kami dihadapkan dengan jalanan tanpa rumah di kanan kiri. Hanya ladang, sawah dan tanah kosong. Kami menerawang sampai ke mana pemukiman penduduk selanjutnya. Dusun Sabah yang sepertinya menjadi tujuan kami pun tidak nampak, atau tidak ada tanda-tanda satu pun yang menujuk ke arah sana. Setelah sekitar dua-tiga menit perjalanan dikelilingi sawah-ladang, terlihat kembali rumah penduduk. Aku memelankan laju motor. Mata kami mencari-cari warung yang menadakan ada tanda menjual re-fill galon, atau setidaknya memajang galon di depan warungnya.

            Nihil. Kami melewatkan dua warung tanpa ada tanda-tanda yang ada di kepala kami. Lalu di warung selanjutnya, Cana ingin kembali mencoba bertanya. Aku memarkirkan motor.

            Dan lagi-lagi penjaga warung menggeleng-gelengkan kepala seraya menunjuk kembali ke arah barat. Saat aku mau menyalakan motor, terdengar seorang bapak dari rumah seberang menyeletuk, “cari di Sabah. Warung yang ada pohon kedongdongnya.”

            Kulihat di rumah seberang, sekumpulan bapak-bapak berkumpul di teras rumah. Mereka mengamati kami yang kebingungan dan membawa galon air kosong.

            “warungnya seperti apa ya, Pak?” Sahutku.

            “warungnya besa’ (baca:besar), di ujung, dusun Sabah.” Jawab si Bapak berkumis tebal.

            “Siap, terima kasih banyak, Pak.”

            Cana dengan tangan kanan masih menggenggam leher galon, kembali menaiki motor. Kami melempar senyum ke arah sekumpulan bapak-bapak di rumah seberang, dan melanjutkan perjalanan kami.

            Jalanan tanpa rumah penduduk, digantikan oleh ladang dan sawah-sawah kembali mengiringi perjalanan kami. Kali ini jalan cukup berliku-liku, ladang jagung yang meninggi menghalangi setiap tikungan, sesekali lubang kecil yang tergenang air, membuat kami cukup was-was. Sebuah mobil kijang melaju ke arah kami, lantas aku memperlambat laju motor dan menghindari mobil kiang itu.

            “Pelan-pelan aja, Fan.”

            Aku mengiyakan. Sepanjang mata memandang masih saja pemandangan tanpa rumah penduduk. Aku pun terpikir sebuah ide.

            “Can, coba kamu hitung satu sampai enam puluh, kalau sampai enam puluh, kita belum nemu warung, kita balik.”

            Cana setuju. Ia mulai menghitung mulai dari satu. Aku pun kembali berfokus kembali ke jalanan.

            Mulai dari titik ini aku mulai merindukan motor-motor yang bersisian di kanan-kiri. Deru motor saling bersahutan dan menyalip, klakson-klakson di perempatan lampu merah. Suara dan suasana tersebut saling berkelindan di pikiran, sedangkan mata masih menatap jauh di jalanan kosong tanpa ada apapun yang mengiringi, kecualil pepohonan dan ladang jagung.

            Pada hitungan ke-25, pemukiman penduduk kembali terlihat. Cukup banyak rerumahan di pinggir jalan, beberapa warung juga terlihat, namun warung-warung itu tetap tidak menunjukkan tanda menjual re-fill air galon. Terlihat banyak anak seumuran berkumpul di teras rumah. Kami pun jadi daya tarik mereka, entah mereka memang memperhatikan kami berdua, atau hanya memperhatikan Cana. Kami pun melewati pemukiman kali ini tanpa berhenti di mana pun. Hitungan Cana sudah mencapai ke-35.

            Yah, pemandangan yang sama lagi-lagi menyergap. Ada turunan cukup curam menghadap. Di ujung turunan ada lubang yang tergenang. Aku makin was-was. Cana pun begitu, ia menyetop hitungannya.

            Turunan curam dan lubang lumpur sudah berlalu. Di tikungan tajam, sebuah truk kembali melaju kencang dari arah berlawanan. Aku kembali memperlambat laju. Hitungan Cana sampai di hitungan 50, aku agak khawatir dengan permainan yg kubuat, tentu tidak enak kembali dengan tangan kosong, lebih tepatnya galon kosong.

            “51.”

            Aku mempercepat laju motor.

            “52.”

            “53.”

            Masih belum terlihat tanda-tanda pemukiman.  Tikungan demi tikungan kami lewati. Aku makin mempercepat laju motor.

            “54.”

            Pemukiman penduduk terlihat kembali. Kali ini dengan harapan begitu besar. Sebab sudah hampir dua puluh menit kami berjalan tanpa tahu kapan harus berhenti. Kami pun berhenti di sebuah warung, halaman warung ini cukup besar. Ada meja rendah yang dikelilingi kursi-kursi plastik, menandakan warung ini menyediakan kopi dan kerap jadi tempat nongkrong warga. Aku turun dari motor, menghampiri seorang lelaki yang tengah merokok.

            “Bang, maaf. Di sini bisa re-fill air galon.”

            “Tidak ade, di Sabah.” Kali ini si Abang menunjuk ke arah timur. “Di sane, tidak jauh, sebatang rokok saje.”

            “Kita kelewatan, Can.” Bisikku.

            “Oh, jadi mungkin yang tadi kita lewatin itu.”

            Kami pun undur diri, dan melajukan motor ke arah timur. Sebatang rokok? Kupikir maksudnya berkisar lima menit saja, atau bisa saja kurang. Kami pun melewati jalanan tanpa pemukiman penduduk.

            “Aku udahan aja ya, Fan ngehitungnya.”

            “Iye, kita kan juga udah perjalanan balik.”

            Begitu pemukiman penduduk nampak, Cana langsung menunjuk rumah yang dilapisi kramik biru muda di bagian terasnya. Alis mataku mengerut. Sebab lagi-lagi tidak ada penanda apa pun yang menunjukkan ‘re-fill galon’. Tapi ya berhubung sudah tidak tahu lagi ke mana harus mencari re-fill galon, jadi ya apa boleh bikin?

            “Bu, di sini bisa re-fill galon?”

            “Bisa,” jawab ibu penjaga warung, nadanya terdengar lempeng.

             Cana lalu memberikan galon. Si ibu penjaga warung langsung masuk ke dalam membawa galon. Aku mengamati warung. Meja depan berjejer beragam saste minuman ringan, di etalase menjual peralaatan tulis dan buku-buku tulis. Di bagian dalam pun, dagangan hanya berkisar snack kecil, minuman botol, dan bumbu-bumbu dapur. Bahkan tidak ada galon sama sekali yang terpejeng di sini.

            Aku mengambil sebungkus kerupuk rambak, hanya seribu rupiah. Semenjak di sini, aku mulai merasa harga-harga di pulau Jawa, khususnya di Jogja jadi cendrung lebih mahal. Mungkin bagian ini aku ceritakan di judul-judul yang lain. Menyobek plastiknya dan mengemilinya. Kulihat Cana pun melakukan hal yang sama. Aku beranjak, berdiri di dekat teras. Di dekat teras ada pohon berbatang seuukuran jari tengah dan jari telunjuk digabungkan, daun-daunnya pun cukup rindang, di dekat daun-daun itu ada buah seukuran ibu jari berwarna hijau.

            “Can, ini pohon kedondong?” Tanyaku.

            “Aku malah nggak tau buah kedondong itu kayak gimana,” jawabnya sambil mengemil kerupuk rambak di tangannya.

            “Hmm aneh aja, sedari SD atau SMP dulu kerap dibuat jadi sampiran pantun, tapi malah ngga tau rupa buahnya seperti apa.”

            Pandanganku tetiba terfokus ke dalam rumah. Ada alat strerilisasi air galon di ujung ruang. Aku melihat si Ibu menaruh galon kami di dalamnya, menyelipkan selang di leher galon, air mengalir memenuhi galon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.