Bagaimana Mahasiswa Ber-IPK 4 Berjualan Buku Tere Liye

Ia melangkah keluar GSP dengan langkah tegap dan yakin, ia tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Beberapa menit yang lalu, rektor memanggil namanya di hadapan ribuan pasang mata mahasiswa dan para orang tua, ia dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi di periode wisuda itu. Tidak tanggung-tanggung, rektor menyebutnya mendapat IPK 4, wajah Ibu Rektor tampak kecut melihat wujud mahasiswa yang memperoleh prestasi tersebut, ia adalah mahasiswa yang sama yang pernah Ibu Rektor minta kepada dekan fakultas untuk menyekors akibat tuduhan perbuatan tidak menyenangkan di rumah Ibu Rektor. Akan tetapi, masalah itu sudah berlalu, Ibu Rektor sepertinya masih tidak terima pengacau di rumahnya memperoleh IPK sempurna.

Namun masalah mahasiswa tersebut belumlah selesai. Ia harus mengejar impiannya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya hingga Belanda, namun bapaknya seorang pensiunan PNS dan sang ibu hanya penjual nasi rames di depan rumah, tentu tidak bisa banyak membantu impiannya untuk berkuliah di luar negeri. Berhubung ia sangat suka membaca, jadilah ia berkeinginan berjualan buku via instagram. Sepanjang lima tahun menjadi mahasiswa, ia selalu berkutat pada buku-buku kiri dan buku sastra. Buku-buku itulah yang menempa rasa simpatinya pada buruh dan petani. Lalu ia ingin para pembeli bukunya juga memiliki rasa simpati kepada kaum marjinal. Dengan sedikit modal, ia menyetok buku-buku untuk dia foto dan jual di Instagram, di langkah awal ia menyetok buku Aksi Massa-nya Tan Malaka, buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Namun, minggu-minggu awal ia berjualan, ia mendapati kenyataan bahwa tidak banyak orang-orang yang berminat pada buku-buku yang ditawarkan. Para calon pembelinya malah bertanya, apakah ia menjual buku-buku Tere Liye. Pertanyaan itu membuatnya kesal, kesal bukan main. Bukan apa-apa, selama lima tahun ia berkuliah sastra, ia mendapat buku-buku Tere Liye bukanlah buku-buku yang bernilai estetik, sesekali ia pernah membaca salah satu novel Tere Liye, ia menemukan buku-buku itu tidak lebih dari kumpulan nasehat yang dipaksakan menjadi cerita. Ia tidak habis pikir bagaimana para pembaca Tere Liye bisa sesenang itu diceramahi, apakah mereka lebih mendengarkan nasehat-nasehat Tere Liye ketimbang orang tua mereka sendiri, sampai-sampai mereka begitu menggemari kumpulan nasehat tersebut.

Namun, setelah sebulan menjual buku-buku tersebut, tidak sampai seperempat dari stok awal baru terjual, itu pun teman-teman terdekat yang prihatin dengan keadaan finansial dan usaha temannya tersebut. Betapa nelangsanya keadaannya saat itu, ia makin terhimpit kebutuhan hidupnya, menjual buku-buku sastra tidak membawa hidupnya lebih baik. Ada seorang temannya yang berinisiatif menraktirnya mie goreng di warung burjo, ia pun mengiyakan ajakan tersebut. Di tengah perjalanan menuju warung burjo, notifikasi ponselnya berbunyi, lagi-lagi chat pertanyaan, apakah ia menjual buku-buku Tere Liye dan menanyakan sekitar 10 judul. Tanpa berpikir panjang lagi, ia bilang ia menjual buku-buku tersebut, setelahnya calon pembeli langsung mentransfer sejumlah 10 buku Tere Liye dan ongkos kirimnya. Matanya sungguh berbinar-binar melihat bukti transfer tersebut, jikalau ia mengambil keuntungan 10 persen saja, ia sudah bisa menutupi kebutuhan hidup satu minggu.

“Eh, anterin aku ya ke toko buku, ada pesenan banyak nih,”

“Wah, ayok deh. Ada juga ya yang mau beli buku sastra dalam jumlah banyak.” temannya berbalik mengambil motor di indekosnya.

Ia hanya tersenyum kecut mendengarnya.

Sesampainya di toko buku di jalan Affandi, ia bergegas menuju rak buku paling depan dan paling mencolok di toko buku tersebut.

Temannya heran melihat kelakuannya, “ngapain kok malah ke sini? Kan kamu cuma jual buku sastra aja kan ya?”

“Udah, bantuin aja. Cari buku yang ada di list itu.” ia menyerahkan handphonenya.

“Astaga, Gus.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.