Sate Klatak dan AADC 2?

Saya merupakan pribadi yang mudah terpengaruh pada sesuatu yang saya baca dan tonton. Misal, novel Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Z membuat saya ingin pergi ke Kota Tua di Jakarta Pusat pada dini hari. Atau saja novel Istanbul karya Orhan Pamuk membuat saya ingin bertualang ke sudut-sudut ibukota Turki tersebut. Hal yang sama terjadi saat saya menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2. Untuk beberapa generasi, film ini merupakan sebuah reuni. Film yang kembali dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nikolas Saputra, akan membawa kembali penonton Ada Apa Dengan Cinta pada tahun 2002. Segala kenangan yang tak jauh dari kisah romansa dan persahabatan yang terjadi pada masa itu, bisa jadi kenangan dengan siapa yang diajak menonton film itu, atau kepada siapa puisi-puisi ditulis saat film itu booming. Namun, bagi saya yang mungkin saat itu masih ingusan, saya tidak mempunyai kenangan apa pun terhadap film itu. Film AADC 2 bagi saya adalah pantikan untuk menjelajah kota di mana saya dibesarkan.

Adalah Sate Klatak Pak Bari jadi salah satu lokasi pertemuan Cinta dan Rangga saat menghabiskan malam di Yogyakarta. Letak sate klatak ini cukup jauh dari pusat kota, terletak di Jalan Imogiri. Tepatnya di Pasar Wonokromo, tidak jauh dari MAN 3 Bantul. Selepas dari Hutan Pinus di Mangunan, saya dan beberapa teman mengistirahatkan dan menjalankan salat Magrib di kantor polsek, kami bersiap menuju Sate Klatak Pak Bari. Jalanan Imogiri cukup gelap hari itu, tidak banyak lampu jalan yang menyala di pinggir jalan. Lokasi mudah untuk ditemukan, jika dari arah Mangunan, kau perlu memastikan kau belum melewati perempatan lampu lalin Wonokromo, tidak sampai 50 meter, ada jalan kecil di kanan jalan yang mengarah ke pasar Wonokromo. Sate Klatak Pak Bari pun terlihat dari spanduk berwarna merah. Pukul 18.22, begitu yang terdisplai di jam tanganku, terlihat dua orang pegawai (yang mungkin salah satunya adalah Pak Bari sendiri) terlihat sedang menyiapkan pelbagai peralatan, ada dua tong aluminium besar berisi gulai dan tong lainnya puluhan mungkin ratusan tusuk sate siap dibakar di dalamnya. Beberapa pengunjung telah menunggu di setiap sudutnya. Ada pasangan yang saling bercengkrama sesekali mengintip ruang obrolan di handphone-nye, ada pula gerombolan pemuda yang tampak sekali sedang mengobrol santai di bagian lesehannya. Begitu tungku tanah liat yang berisi arang sudah menyala, salah satu pegawai mempersilakan pengunjung untuk memesan dari salah satu meja dekat tungku-tungku yang sedang membara.

Saya pun menghampiri meja pemesanan, kertas yang digunakan untuk mencatat pesanan pun hanya menggunakan kertas bekas yang distaples jadi satu, tidak istimewa untuk sebagai salah satu lokasi film yang fenomenal di Indonesia. Harga satu porsi sate di sini 20 ribu, bagi saya cukup mahal untuk dua tusuk sate, dan tak cukup itu saja, nasi putih pun juga tidak termasuk harga 20 ribu itu, kau tentu harus mengocek tiga ribu rupiah untuk nasi dingin yang dicetak menggunakan mengkuk kecil, dan dua ribu rupiah. Kupikir tiap orang di sini minimal akan merogoh 25ribu. Lima belas menit menunggu, sate yang menggunakan jeruji sepada hadir di meja. Saya tentu berasumsi satu tusuk seharga sepuluh ribu rupiah, ada enam potongan daging sebesar jempol kaki anak remaja. Seorang ibu yang menunggui tungku gule, mempersilakan kami untuk mengambil kuah gule untuk dituangkan di atas nasi. Meraih satu tusuk dan mengunyahnya, saya merasakan daging cukup lembut dari penampilannya, rasa asin cukup mendominasi, namun tidak terlalu asin. Setiap kunyahannya pun dibarengi nasi dengan kuah gulai. Saya berupaya menebak-nebak apa yang membuat Riri Riza memilih lokasi ini, entah, sate klatak membuat saya memilih menikmatinya ketimbang memikirkan hal itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.