Pipa – Etgar Keret

Diterjemahkan secara bebas dari “The Bus Driver Who Wanted to be God”(Riverhead Books, 2015) karya Etgar Keret, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.s__59015170

Ketika aku kelas 7 SMP, sekolah mendatangkan psikiater dan meminta kami untuk mengikuti rangkaian tes. Dia menunjukkanku dua puluh flashcard yang berbeda, satu persatu, dan menanyakan apakah ada yang salah dengan gambar di kartu tersebut. Kartu-kartu itu terlihat baik-baik saja menurutku, namun ia mendesakku dan kembali menujukkan kartu pertama—satu satunya kartu yang terdapat anak kecil. “Ada yang salah dengan gambar ini?” ia bertanya dengan muka lesu. Aku berkata gambarnya terlihat baik-baik saja. Ia sungguh-sungguh marah, dan berkata, “dapatkah kau lihat ada seorang anak tanpa daun telinga?” Mendengar itu aku kembali menatap kartu tersebut,  aku coba melihat seorang anak tanpa daun telinga. Namun, gambar itu terlihat baik-baik saja. Psikiater menempatkanku sebegai ‘penderita gangguan persepsi akut,’ dan mengirimkanku ke sekolah pengolahan kayu. Sesampainya di sana, alergi serbuk kayuku kambuh, lalu mereka memindahkanku ke kelas pengolahan logam. Aku cukup baik di sana, namun aku tidak sepenuhnya menikmati. Sejujurnya aku tidak nyaman diistimewakan. Ketika aku lulus, aku mulai bekerja di pabrik pipa. Bosku merupakan insinyur dengan gelar diploma dari fakultas teknik. Seorang yang brilian. Jika kau menunjukkan gambar seorang anak kecil tanpa daun telinga atau sejenisnya,  dia paham itu hanya buang waktu saja.

Setelah aku bekerja, aku menetap di pabrik, dan membuat pipa dengan bentuk aneh, salah satu bentuknya terlihat seperti ular yang meringkuk, aku melempar kelereng ke dalamnya. Aku tahu itu terdengar seperti sampah, aku pun tidak begitu menikmati, tetapi aku ingin melakukanya.

Suatu malam aku membuat pipa yang sangat rumit dengan banyak lekukan dan belokannya, dan ketika aku melempar kelereng di dalamnya,  kelerengnya tidak keluar di ujungnya. Awalnya aku pikir mungkin hanya macet di dalamnya, tetapi setelah mencoba dengan 20 butir lebih kelereng, aku sadar itu kelereng itu menghilang begitu saja. Aku tahu yang aku katakan terasa sangat bodoh. Aku bermaksud setiap orang tahu jika kelereng-kelereng itu tidak hanya menghilang, tapi ketika aku melihat kelereng memasuki ujung pipa, namun tidak keluar di ujung lainnya, hal ini tidak serta merta membuatku menjadi aneh. Saat ini terlihat baik-baik saja. Lalu aku memutuskan untuk membuat pipa yang lebih besar, dengan bentuk yang sama, hingga aku bisa merayap di dalamnya dan menghilang. Ketika ide itu terlintas, aku sangat senang dan tertawa terbahak-bahak. Kupikir ini kali pertama dalam hidup aku tertawa.

Mulai dari hari ini, aku mengerjakan pipa raksasa. Setiap malam aku mengerjakannya, dan di pagi hari aku menyembunyikannya di gudang penyimpanan. Pekerjaan ini menghabiskan waktu 20 hari. Pada malam terakhir, aku menghabiskan lima jam untuk merakitnya, dan setengahnya aku habiskan atas lantai.

Ketika aku lihat semua dalam satu bagian, menungguku, aku ingat guru pelajaran sosialku berkata  sejak pertama kali manusia menggunakan pemukul bukanlah orang terkuat di sukunya maupun tercerdas. Hanya saja yang lain tidak butuh pemukul, sementara dia membutuhkannya. Dia lebih membutuhkan  pemukul dibandingkan lainnya, untuk bertahan hidup dan berhias sebagai orang lemah. Aku tidak berpikir ada manusia di belahan dunia ini menginginkan untuk menghilang lebih dari aku, dan hal itu sebab aku membuat pipa ini. aku, dan bukan insinyur brilian dengan gelar lulusan teknik yang menjalankan perusahaan.

Aku mulai merayap di dalam pipa, dan tidak berharap adanya ujung pipa. Mungkin di sana akan ada anak tanpa telinga, duduk di timbunan kelereng. Mungkin saja. Aku tidak tahu persisnya yang akan terjadi setelah melewati titik tertentu di pipa. Sejauh yang aku tahu, aku di sini.

Saat ini aku berpikir aku adalah malaikat. Maksudku, aku punya dua sayap dan lingkaran di atas kepalaku dan ada seribu lainnya sepertiku. Ketika aku tiba di sana mereka duduk di sekitar dan bermain kelereng yang aku gelindingkan ke pipa beberapa minggu yang lalu.

Aku selalu biasanya berpikir jika surga adalah tempat untuk orang yang hidup di dunia sebagai orang baik, kali ini tidak. Tuhan sungguh penyayang dan murah hati membuat keputusan itu. Surga sesederhana sebuah tempat untuk orang yang sungguh tidak bahagia di bumi. Ada yang berkata padaku bahwa orang yang bunuh diri hanya akan kembali pada hidupnya pada hidupnya lagi, karena faktanya mereka tidak menyukai hidup pada kali pertama bukan berarti mereka tidak cocok pada kesempatan kedua. Namun untuk yang benar-benar tidak cocok di dunia akan menghilang di sini. Setiap dari mereka punya cara masing-masing untuk meraih surga.

Di sini ada pilot yang sampai di sini dengan memutari salah satu titik tepat di segitiga bermuda. Ada ibu rumah tangga yang pergi melalui bagian belakang kabinet di dapurnya untuk ke sini, dan pakar matematika yang menemukan distorsi topologi di angkasa dan memaksa melaluinya untuk sampai ke sini. Jadi jika kau sungguh tidak bahagia kemarilah, dan jika segala jenis manusia bilang dirimu adalah penderita gangguan persepsi akut, carilah caramu untuk ke sini, dan ketika kau menemukannya, seharunya kau senang hati membawakan beberapa kartu, karena kami lelah bermain kelereng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s