Duka Cita

blue-valley

Bulu abu-abu itu biasanya menyesakkan hidungku, ekormu kadang suka menyibak wajahku, dan aku kadang masih menemukan bekas cakaran itu di kulitku. Namun, saat ini, Cita, kamu di mana?

Sebenarnya kejadian itu bukan sekali dua kali terjadi, sudah cukup sering kucing berusia tiga tahun itu kabur dari rumah dan menghilang begitu saja. kamu kabur pun juga karena kecerobohan kami, kadang aku kerap lupa tidak menutup jendela ketika tidur, rupanya hal itu dimanfaatkan dengan baik olehmu untuk kabur, atau kadang kesalahan orangtuaku kerap meninggalkan kamu main di depan rumah tanpa ada yang mengawasi.

Sebenarnya aku tidak begitu suka menemani kamu untuk bermain di luar, tapi jika mendengar eongan mungilnya, hati mungkin akan terenyuh untuk membukakan pintu depan rumah. Dan duduk depan teras, mengawasimu, kadang hanya duduk saja, atau menjilati bulu-bulu itu. Eongan dan mata bulat yang sendu itu berkali-kali melelehkan hatiku. Kalaupun aku memang benar-benar sedang sibuk atau ada kerjaan yang mendesak, segera kutinggalkan rayuan itu, aku tidak ingin terenyuh terhingga membukakan pintu rumah.

Ah Cita, kamu di mana sekarang?

Kadang aku membayangkan kamu hamil dan segera melahirkan bayi-bayi kucing yang manis, ibuku sampai mengadopsi seekor pejantan yang umurnya selisih tiga bulan lebih tua darimu. Pejantan itu bernama Cimu. Awalnya ibuku ingin kamu mempunyai teman bermain saat kami sekeluarga sibuk dengan dunia, ataupun sedang pergi ke luar kota. Dan berharap kalian bisa bekerjasama melahirkan bayi-bayi kucing percampuran abu-abu dan putih, namun kalian rupanya tidak saling menyukai ya? Hari-hari pertama Cimu menjejakkan kakinya di rumah ini, kamu banyak menggeram marah ke arah kucing putih itu, namun Cimu tetap menggagapnya bukan gangguan yang harus diladeni. Beberapa kali Cimu tidur di tengah geramanmu. Wajah Cimu sangat pulas kala itu, dan mungkin baginya geraman marah itu hanyalah nyanyian yang makin memulaskan tidurnya.

Kurasa keinginanku dan keluargaku untuk memiliki bayi-bayi kucing mungkin akan pupus. Kalian berdua kerap sekali berkelahi, kejar-kejaran hingga menjatuhkan barang-barang di rumah. Suatu ketika kamu sedang tertidur di atas kulkas, dan Cimu melompat menghampirimu. Kamu menatapnya tidak senang dan langsung lompat menjauhinya. Entah kenapa kamu tidak tertarik dengan kucing jantan itu. mungkin kamu masih tidak bisa lepas dari masa lalu itu ya? Aku kurang yakin dengan rekaanku, namun, kamu mungkin belum bisa melupakan kucing berwarna putih emas itukah?

Sewaktu masih di rumah sebelumnya, kamu sering kali duduk di atas meja ruang tamu menatap ke jendela, sekali kali menjijitkan kedua kaki belakangmu untuk sekedar mengintip sesuatu di luar sana. Rupanya kucing abu-abu dengan garis emas di perutnya ini sedang mengintip seekor kucing yang tertidur di kap mobil. Aku tidak yakin kamu sedang jatuh cinta dengan kucing itu. namun di tengah malam kau sering mengeong seraya melihat kucing itu berada di halaman rumah, mungkin juga kucing itu juga ingin bertemu denganmu. Ah sial, buat apa Cimu didatangkan ke rumah ini? Aku tidak pernah mengizinkanmu keluar rumah hanya untuk bertemu kucing itu. aku tidak peduli bola mata yang suka merayu itu, ataupun eongan yang melelehkan itu. Aku tidak ingin kucing ras persia ini dikawini oleh kucing lokal. Pernah suatu ketika kamu mendorong pintu depan, walau pintu itu hanya bergeming didorong oleh sebelah kakimu, namun setidaknya terdengar gemerincing kunci yang menggantung di atasnya. Dan ku tetap tidak membukakan pintu itu.

Ah, Cita, kamu di mana?

Selalu menyenangkan saat kamu menyambutku di depan kamar, melompat ke kasur dan merabahkan tubuhmu, menyodorkan perutmu untuk digelitiki, mata bulat dan kaki depan yang tertekuk manis itu tidak pernah gagal membuatku gemas? Oh, shit, how amazing you’re. Anugrah Tuhan untuk mempunyai kucing manja sepertimu, ta.

Atau terkadang, saatku masih lembur mengerjakan tugas kuliah, kamu melompat dan berguling-guling di atas buku dan lembaran tugasku, kombinasi antara kejengkelan dan kegemasan berpadu dengan apik menemaniku malam itu. kuelus leher itu, kamu tampak sangat menikmati, matamu semakin terpejam. Wajah berbulu menggemaskan itu membuatku tak tega untuk menarik lembar tugasku, kadang kubiarkan begitu saja.

Ah, Cita, kamu di mana?

Seminggu ini kamu pergi, melompat dari jendela lantai dua, pada hari biasanya dengan mudah kutemukan kamu sedang duduk menikmati matahari di rerumputan halaman rumah, atau berbaring di pinggir kali belakang rumahku. Atau menemukanmu di atas tumpukan bata, mata yang terpejam diterik matahari, terlihat kedamaian dalam tidurmu.

Ah, saat ini kamu tidak di sana.

Terakhir kamu menghilang, selama tiga hari. Seisi rumah menjadi kalut, Cimu kadang hanya duduk di ujung teras, seakan menantimu di ujung jalan. Hampir setiap pulang kuliah, sore itu kadang ku sempatkan mencarimu di kuburan yang berada tak jauh dari rumahku. Sambil kugoyangkan kotak berisi makananmu, kuharap suaranya akan membuatmu menghampiriku. Kedua orangtuaku kerap keluar depan rumah hanya berharap kamu berada di depan teras dengan muka tanpa dosa, seperti biasanya. Di penghujung magrib, eonganmu memanggil kami dari halaman bawah. Namun tidak kali ini.

Rintik hujan sungguh mengkhawatirkanku, juga gonggongan anjing di tengah malam. Aku tak habis pikir di mana kau berteduh atau mencoba menghindari anjing-anjing itu. aku pun tak bisa membayangkanmu bertemu rintik hujan di malam hari. Mengingat kamu begitu susah untuk diajak mandi.

Ah, cepatlah kembali, ta.

Pada tengah malam, kucoba membuka pintu rumah, kembali pada harapan seminggu terakhir. Namun jalan menunjukkan kehampaannya, sinar kuning lampu jalan membuat semuanya begitu sendu, kesenduan itu mengiringi penantianku. Setelah kututup pintu rumah, beranjak memasuki kamar, telinga menangkap sesuatu yang akrab, yang telah lama hilang, eongan mungil itu. Ah, Cita ! kamu di atas meja berdiri menatapku, mata bulat itu terlihat sayu, dan eongan itu terdengar tipis. Segera kuberlari menghampiri, dan kamu langsung berbalik, menembus pintu rumah kami.

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s