Menulis dalam Berlari

Judul               : What I Talk About When I Talk About Running

Penulis             : Haruki Murakami

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun terbit     : cetakan pertama, 2016

ISBN               : 978-602-291-086-2

13102567_841545235950456_1916602564_n

Rasa sakit itu tak terelakkan, tapi penderitaan adalah pilihan

Dengan kalimat itulah Murakami mengantarkan pembacanya kedalam buku nonfiksinya. Dalam sebuah memoar tipis tentang berlari, sepanjang 190 halaman, Murakami bercerita pengalaman berlarinya selama 25 tahun terakhir. Ia termasuk sedikit dari penulis yang menyukai berlari, saat umur 33, umur ketika Yesus wafat, Murakami menasbihkan diri untuk menjadi pelari serius.

Membaca karya karya Murakami biasanya tidak pernah terlepas dari cerita cerita aneh nan absurd, namun dalam What I Talk About When I Talk About Running, pembaca jelas tidak akan menemui kucing yang dapat berbicara, ataupun dunia dengan dua rembulan. Dalam buku memoarnya, Murakami benar benar menulis apa adanya, mengalir seperti biasanya, namun porsi metafora dan kiasanya cukup dikurangi. Ditambah penerjemahan yang sangat baik, sehingga bisa menghadirkan Murakami dalam bahasa Indonesia.

Pada awalnya Murakami sendiri bukan seseorang yang tertarik pada dunia tulis menulis, maupun berlari. Ketertarikannya pada musik jazz, ia salurkan dengan mendirikan sebuah klab jazz dan segudang koleksi piringan hitam di rumahnya. Sebuah momen ketika ia menonton pertandingan baseball, entah ia dirasuki apa, ketika seorang pemain baseball berhasil menapak pada base II, Murakami memantapkan diri untuk mencoba menulis novel. Bermodalkan keinginan kuat dan pena yang baru ia beli di Kinokuniya, hari demi hari Murakami menuliskan cerita yang nantinya akan berjudul Hear The Wind Sing. Murakami mengakui bahwa menulis bukan merupakan aktivitas yang menyehatkan, ia ingin menyeimbangkannya dengan rutin berlari.

Berlari menurut Murakami adalah olahraga yang cocok dengan kepribadiannya. Ia termasuk tipe seseorang yang tidak begitu menyukai bersosialisasi dengan orang lain, cendrung penyendiri, dan  introvert. Olahraga biasanya menuntut adanya interaksi antara sesama, tapi itu tidak terjadi dalam berlari. Murakami tidak merasa harus berinteraksi pada orang orang sekitarnya. Kecendrungan ini sangat terlihat ketika Murakami menciptakan tokoh-tokoh dalam cerpen maupun novelnya.

Sejak memantapkan diri menjadi seorang pelari yang serius, Murakami berupaya konsisten untuk berlari setiap hari sepanjang 10 km, walaupun biasanya ia mampu berlari lebih dari 10 km, jadi dalam seminggu rata rata Murakami dapat mencapai 60 km lebih, lalu diakumulasikan dalam catatanya dalam sebulan, ia dapat berlari mencapai 260km.

Rupanya target itu tidak membuatnya puas, tiap harinya Murakami selalu menambah frekuensi dan jarak yang ditempuhnya. Pada bulan bulan berikutnya Murakami selalu menambah pencapaiannya dalam berlari. Ketika ia dalam sebulan dapat mencapai 310 km, ia mengkategorikan dirinya sebagai pelari sangat serius.

Juni                  260 km           (60 km per minggu)

Juli                   310 km            (70 km per minggu)

Agustus           350 km            (80 km per minggu)

Begitulah catatan berlari Murakami, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti sebuah ajang lomba marathon penuh di Athena. Dalam rentang 25 tahun, setidaknya Murakami telah mengikuti 25 kali perlombaan marathon, mulai dari marathon penuh sepanjang 42 km hingga ultramarathon sepanjang 100 km. Pengalaman selama latihan hingga mengikuti lomba lomba tersebut ia tulisakan cukup manis dan terkadang menyentuh. Ada kalanya kakinya cedera ketika berlari, namun tekad kuat membuat Murakami menolak untuk berjalan.

Menjalani kariernya sebagai novelis dunia, kegemarannya dalam berlari sangat mempengaruhinya dalam menulis. Dalam beberapa bagian, Murakami menjabarkan persamaan antara menulis dan berlari, pengetahuan tentang menulis, ia banyak dapatakan dari berlari bahkan menurutnya tanpa berlari, ia tidak akan mungkin menulis dengan baik.

Berlari dan menulis bagi Murakami keduanya saling berkelindan satu sama lain, saling mengaitkan diri pada penulis berkebangsaan Jepang ini. pada buku ini, Murakami banyak mengajarkan arti sebuah konsistensi dan kerja keras dalam melakukkan sesuatu yang ia inginkan.

*NB : Artikel ini pernah dimuat di Bulaksumur Post edisi  241, 4 Mei 2016, dengan judul Menulis dan Berlari : Berdinamika dalam Pilihan Hidup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s