Pipa – Etgar Keret

Diterjemahkan secara bebas dari “The Bus Driver Who Wanted to be God”(Riverhead Books, 2015) karya Etgar Keret, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.s__59015170

Ketika aku kelas 7 SMP, sekolah mendatangkan psikiater dan meminta kami untuk mengikuti rangkaian tes. Dia menunjukkanku dua puluh flashcard yang berbeda, satu persatu, dan menanyakan apakah ada yang salah dengan gambar di kartu tersebut. Kartu-kartu itu terlihat baik-baik saja menurutku, namun ia mendesakku dan kembali menujukkan kartu pertama—satu satunya kartu yang terdapat anak kecil. “Ada yang salah dengan gambar ini?” ia bertanya dengan muka lesu. Aku berkata gambarnya terlihat baik-baik saja. Ia sungguh-sungguh marah, dan berkata, “dapatkah kau lihat ada seorang anak tanpa daun telinga?” Mendengar itu aku kembali menatap kartu tersebut,  aku coba melihat seorang anak tanpa daun telinga. Continue reading

Duka Cita

blue-valley

Bulu abu-abu itu biasanya menyesakkan hidungku, ekormu kadang suka menyibak wajahku, dan aku kadang masih menemukan bekas cakaran itu di kulitku. Namun, saat ini, Cita, kamu di mana?

Sebenarnya kejadian itu bukan sekali dua kali terjadi, sudah cukup sering kucing berusia tiga tahun itu kabur dari rumah dan menghilang begitu saja. kamu kabur pun juga karena kecerobohan kami, kadang aku kerap lupa tidak menutup jendela ketika tidur, rupanya hal itu dimanfaatkan dengan baik olehmu untuk kabur, atau kadang kesalahan orangtuaku kerap meninggalkan kamu main di depan rumah tanpa ada yang mengawasi. Continue reading

Menulis dalam Berlari

Judul               : What I Talk About When I Talk About Running

Penulis             : Haruki Murakami

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun terbit     : cetakan pertama, 2016

ISBN               : 978-602-291-086-2

13102567_841545235950456_1916602564_n

Rasa sakit itu tak terelakkan, tapi penderitaan adalah pilihan

Dengan kalimat itulah Murakami mengantarkan pembacanya kedalam buku nonfiksinya. Dalam sebuah memoar tipis tentang berlari, sepanjang 190 halaman, Murakami bercerita pengalaman berlarinya selama 25 tahun terakhir. Ia termasuk sedikit dari penulis yang menyukai berlari, saat umur 33, umur ketika Yesus wafat, Murakami menasbihkan diri untuk menjadi pelari serius.

Membaca karya karya Murakami biasanya tidak pernah terlepas dari cerita cerita aneh nan absurd, namun dalam What I Talk About When I Talk About Running, pembaca jelas tidak akan menemui kucing yang dapat berbicara, ataupun dunia dengan dua rembulan. Dalam buku memoarnya, Murakami benar benar menulis apa adanya, mengalir seperti biasanya, namun porsi metafora dan kiasanya cukup dikurangi. Ditambah penerjemahan yang sangat baik, sehingga bisa menghadirkan Murakami dalam bahasa Indonesia. Continue reading

Happy Ending with Zenius

Berkenalan dengan zenius sekitar bulan Desember 2012, pas itu gue masih inget lagi di sebuah warnet, lagi browsing cara cara masuk PTN, mulai dari jalur jalurnya hingga mempelajari beberapa soal. Dari banyaknya website ditampilkan dipencarian google, mata gue tertuju pada sebuah deskripsi sebuah web,

‘belajar asik walau banyak main.’

Gue lupa tepatnya, tapi kata kata yang masih nyantol sampe sekarang cuma ‘belajar asik’ dan ‘ tetep main’, itu membuat gue tertarik sama website tersebut. website berdomain zenius.net itu awalnya sempet skeptis aja, karena sebelumnya banyak banget website website sejenis yang awalnya manis manis doang, ujung ujungnya jualan. Tapi setelah gue liat liat, ada menu SNMPTN, dan WAH, ada pelajaran mtk, bahasa indonesia, bahasa inggris hingga IPA dan IPSnya juga sampe ada pembahasan soal soal masuk PTN mulai dari namanya UMBPTN sampe SNMPTN, iseng gue klik salah satu, dan ‘yaah harus bayar, sama aja kayak website website yang ujung2nya jualan.’

Continue reading

Duh Kasian Banget Bangsa Ini #SmartReview #MesakkeBangsakuYogyakarta

Ini ketiga kalinya saya bertemu salah seorang idola saya dalam dunia Standup Comedy. Pandji Pragiwaksono. Ini ketiga kalinya Pandji menggelar Standup Comedy Special. Frankly, saya baru pertama kali ikut Standup tournya, yang dua pertemuan lainnya di Gramedia Ambarukmo Plaza ketika Pandji mempromosikan buku keduanya, Merdeka dalam Bercanda, dan ketika acara Battle of Republic di GSP UGM.

Judul standup special-nya kali ini diberi judul Mesakke Bangsaku. Karena saya sudah lama tinggal di Yogyakarta, kata mesakke ini tidak asing di telinga, dari bahasa jawa yang  berarti kasihan. Kasihan ya Indonesia sampai dijadikan judul Standup spesial ini. Ketika Meet and Greet, Pandji menjelaskan di Standup Spesialnya yang ketiga ia akan banyak hal hal yang membuat bangsa ini terlihat ‘mesakke’, dan parahnya banyak yang tidak menyadari itu dan Pandji juga menjelaskan arti dari logo Mesakke Bangsaku. Di logo itu digambarkan tangan yang terbogol dan jika disorot cahaya akan seperti burung (diinterpretasikan dengan burung garuda), jadi itu menggambarkan kalo bangsa Indonsia itu sedang ‘terborgol’ sehingga tidak bisa terbang (berkembang)bebas.

Standup tour yang di gelar di AKS Tarakanita ini seperti yang ditulis dibeberapa  review #MesakkeBangsaku di kota lain, acara ini tepat waktu. Pandji selalu mengatakan lewat akun twitternya ‘Bukannya nggak mau nungguin yang telat tapi mau menghargai yang tepat’ salut dengan komitmennya terhadap waktu dan penghargaanya terhadap penonton. Setelah diperdengarkan selama kurang lebih 15 kali lagu Kebyar Kebyar-nya Gombloh yang sudah diremix oleh Coklat, jam 19.30 acara sudah dimulai.

@omimot dan @yusrilfahriza

Acara dibuka oleh duet MC gokil dari komunitas @standupindojgj, @omimot dan @yusrilfahriza. Melihat kegokilan dari MC, saya makin yakin acara ini bakal keren banget. Setelah MC membacakan beberapa tata tertib (ini acara standup atau ospek sih !), dipanggil opener pertama dipilih dari salah satu program SMARTFREN yaitu #SmartComic, Nanda Nur Aziz (@nandanuraziz). Saya sudah pernah melihat perfoma standup dari Nanda, di beberapa open micnya dan juga pernah menjadi opener di Battle of Republic. Dan malam itu Nanda menunjukan kemampuannya sebagai komika dari Yogyakarta. Beberapa bitnya tentang titit, pekerjaan sebagai komik dan JKT48 walau saya sudah pernah mendengarnya, tetap menghasilkan tawa yang riuh, teknik act out yang sok imut ketika memposisikan jadi WOTA JKT48, dan mengejaan kata EF PI AI seperti mengeja FBI sukses mengundang tawa penonton di AKS Tarakanita tersebut.

Nanda Nur Aziz

Lalu opener kedua oleh Kamga(@kamga_mo), salah satu pesonil dari Tangga. I have no any expectation about Kamga, karena setau saya dia cuma artis dan host Explore Indonesia di KompasTV, dan belum pernah mendengar kalo dia melakukan standup comedy. Tapi ketika di MnG, alasan Pandji mengajak
Kamga untuk jadi opener karena dia punya opini dan itu jarang dimiliki oleh seorang komika. Dan Kamga juga menjelaskan dia punya banyak opini tentang apapun. Dan itu dibuktikan ketika Kamga tampil, ia menghasilkan gelak tawa dari penonton, meski ketika diawal Kamga terlihat ragu, dan premisnya tidak begitu jelas untuk di dengar. Kamga mempunyai bit  tentang sudut pandang artis terhadap acara musik pagi di sebuah stasiun TV swasta, dan bitnya tentang cewek berkerudung, mungkin bakal terdengar sensi oleh beberapa pihak, tapi tetap menghasilkan tawa yang cukup menggelegar. Keren Kamga 🙂

Kamga
Pandji Pragiwaksono

Dan akhirnya sampai dipuncak acara, Pandji memasuki panggung dengan mengenakan kaos Mesakke Bangsaku putih dan jas putih duduk diatas kursi dan sedikit meminum kopi yang sudah disiapkan panitia. Pandji mengawali bit-bitnya tentang persatuan umat beragama dan kaum minoritas seperti perempuan, kaum gay, pengusaha, orang China, orang orang difabel. Ketika Pandji bermain dengan data data statistik, saya melihat kerja keras Pandji dalam menyusun bit ini, dan kerja keras itu menghasilkan tawa dan ada beberapa selipan ilmu dari bit bit itu.

Bukan Pandji kalo nggak nge-riffing penonton. Kalau melihat korban riffing Pandji di tour standupnya tahun lalu #MerdekaDalamBercanda di Jakarta, yang benar benar KO dipergokin selingkuh, feeling saya mengatakan, pasti malam ini bakal lebih keren dari tahun lalu. Saya jelaskan bahwa riffing adalah salah satu teknik standup comedy yang dimana seorang komik mengajak ngobrol penonton dan mencari kelucuan dari situ. Ketika Pandji membicarakan kaum gay, dia memberikan sebuah riset, “1 dari 17 orang Indonesia itu adalah gay”, dan Pandji menghitung urut penonton di kursi pertama di ujung kanan, satu sampai 17. Dan menunjuk salah seorang penonton cowok dan langsung menuduhnya bahwa ia gay. Saya dan 700 penonton tertawa makin keras ketika Pandji menyuruh cowok itu untuk bilang “Tujuh”. Duh sumpaaah kasiaaan banget tuh cowok itu, sampai rumah mungkin dia latihan bilang tujuh biar nggak dibilang gay. “Tujuh.. tujuh… tujuh” HAHAHAHAA GOKIL 😛

Lalu pandji juga mmebicarakan kaum jomblo lalu juga memberikan tips dan triknya mendapatkan pasangan atau pacar agar kaum jomblo musnah. Wah kalo yang ini jelas saya dengarkan sepenuh hati #KODE :P. Mungkin pernyataan ini sering banget didapetin tweet atau blog blog untuk mendapatkan pacar. ‘Cowok itu butuh pengakuan dan Cewek itu butuh perhatian’. Dari situ muncul punchline – punchline yang selalu  membuat penonton tertawa, apalagi dari act outnya Pandji yang sudah sangat terlatih. Dan diem diem, saya catet tips tips itu 😛

Setelah itu Pandji banyak berbicara tentang keluarganya, kelakuan absurd Dipo anaknya Pandji yang pertama, kelakuan Dipo yang suka bohongin bapaknya sendiri. Pandji juga bercerita bag aimana mendidik Dipo, dan itu masukan banget buat saya yang sekitar 10 tahun lagi menjadi calon ayah. Hahaha 😀
Bit bit Pandji terdengar semakin berat ketika dia berbicara tentang pendidikan, kesalahan sistem pengajaran daridulu hingga sekarang, pemaksaan untuk tidak punya opini sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung dipaksa agar tidak berani protes lalu tidak bisa berkembang, beberapa bit menggunakan Dipo sebagai objeknya. Beratnya materi ini yang membuat saya makin mengaggumi pikiran dan gagasan cerdas dari seorang Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Selain banyak mengkritik sistem pendidikan, Pandji juga menawarkan beberapa solusi bagaimana mengubah itu. Dan saya dan penonton yang mayoritas mahasiswa yang juga akan turut turun tangan dalam perubahan itu. 🙂

Sama seperti Sammy (@notaslimboy), Pandji selalu mempunyai bit bit tentang politik, tapi bedanya dengan
Sammy, materi politiknya Pandji lebih banyak mengedukasi penonton, dan dibandingkan Sammy yang kebanyakan materinya yang #TanpaBatas, satir dan frontal banget. Walaupun begitu, mereka berdua adalah komika favorit saya. Malam itu Pandji membicarakan kenapa kita harus terlibat politik, akibat akibat dari keapatisan terhadap politik, dan berbicara bagaimana menghadapi pemilu 2014 kedepan. Pandji memberi banyak pencerahan untuk bekal untuk memilih caleg dan capres, salah satunya dengan membedakan opini dan fakta. Miris memang melihat media yang banyak mengarahkan opini opini sesat, dan Pandji membawakan itu menjadi sebuah lelucon segar yang edukatif.

Saya kembali melihat kesungguhan Pandji dalam mengeksplorasi bit bitnya, dilihat dari dia menggunakan undang undang dan kegelisahan yang dirasakan karena tidak relevannya undang undang dengan realita saat ini. Ketika dia menyampaikan sebuah bit yang disuguhkan dengan undang undang, Pandji memberikan punchline, “STOOPP, anda tahu kesalahan anda?”. Ketawa penonton paling pecah malam itu. Saya teriak dalam hati, “HAHAHA mampus, gilaa nonjook  banget !!!”.

Saya melihat jam, 21.46, udah hampir dua jam. wah kayaknya udah di penghujung acara, pikir saya.

Saat itu Pandji menunjuk cowok yang dituduh gay tadi lalu menyuruhnya untuk membawa tasnya ke atas panggung. Dan gilanya, Pandji menggeledah satu persatu isi tas cowok tersebut. Setiap barang yang diambil dan selalu ada cela cela untuk ditemukan kelucuan dari barang barang itu. Di sini Pandji menunjukkan kehebatannya dalam berimprovisasi.

Pandji kembali membawakan bit bit tentang toa masjid, perbedaan bodoh dan goblok, contoh kejadian goblok pada saat  pencurian mesin ATM dan lagi lagi tentang kelakuan random Dipo. Sumpah absurdnya nggak ada abisnya. Dan bit kelakuan Dipo ketika sholat jum’at mengakhiri penampilan Pandji pada malam itu.

“Terima kasih dan selamat malam” kata pandji sambil membungkukkan tubuhnya.

Saya dari kursi dan penonton yang lain memberikan standing ovation untuk Pandji. Terlihat kepuasan di wajah Pandji pada malam itu, saya dan 700 penonton #MesakkeBangsakuYogyakarta merasakan kepuasan yang sama. Selain terhibur, kami mendapat banyak ilmu, wawasan dan pencerahan yang bakal menjadi modal untuk kehidupan berbangsa di masa depan, untuk memperbaiki sistem pendidikan dan pola pikir bangsa Indonesia saat ini, dan juga untuk pemilu tahun depan dan seterusnya.

Itulah misi dari Stand Up Comedy Pandji itu sendiri, membawa banyak fakta pahit, membawakannya sebagai guyonan segar dan penonton mendapat sesuatu yang berharga setelah pertunjukan berakhir.

Sebelum acara foto bersama, Pandji membuka sesi pertanyaan tentang bit bitnya. Muncul tiga pertanyaan berbobot tentang kebangsaan dan nasionalism. Ini membuktikan kuaitas dari materi materi Standup yang dibawakan Pandji sehingga bisa menghasilkan pertanyaan seperti itu

Saya mengucapkkan banyak banget terima kasih kepada SMARTFREN  (@smartfrenworld), CITYLINK dan Komunitas Stand Up Comedy Yogyakarta yang sudah menyukseskan acara pada malam itu.

Malam itu menjadi sebuah malam yang tak terlupakan dan malam yang berkualitas.

Terima Kasih Pandji 🙂

Alhamdulillah tulisan ini menjadi pemenang #SmartReview Mesakke Bangsaku Yogyakarta